
minyak hati ikan - Bunda Labibahs
Asam lemak dari Omega-3 ini disebut juga asam linoleat. DHA sangat berperan dalam meningkatkan ketajaman retina mata kita, sekaligus meningkatkan kecerdasan otak. Seperti diketahui, mata sangat penting. Indra penglihatan ini merupakan jendela untuk melihat segala sesuatu yang kemudian meneruskan stimulus ke otak.
Nah, ketajaman mata menangkap suatu objek dan meneruskannya jadi respon di otak, dipengaruhi oleh unsur DHA. Itulah mengapa, dikatakan DHA berperan terhadap kecerdasan." Sedangkan unsur EPA berperan terhadap kesehatan jantung dan pembuluh darah. Bukankah hati adalah salah satu sumber vitamin A, D, dan juga kalsium? Itu sebab, sering dikatakan minyak ikan baik juga untuk pertumbuhan tulang dan gigi.
Jadi, bila orang tua jaman dulu menganggap minyak ikan dapat menambah nafsu makan pada anak, ada benarnya. Karena memang di dalamnya terdapat unsur penambah nafsu makan. Umumnya, komposisi obat penambah nafsu makan itu kebanyakan vitamin dan yang dominan adalah vitamin B kompleks. Namun vitamin D juga termasuk unsur yang bisa membangkitkan nafsu makan," terang Nurfri.
Selain kandungan di atas, dalam ingridient kemasannya juga tertera kandungan jus jeruk. Hal ini dimaksudkan agar terasa menyegarkan sekaligus mengurangi bau amis. Bukankah pada umumnya anak-anak tak menyukai minyak ikan ini gara-gara baunya?" Sayangnya, belum jelas apakah rasa jeruk ini berasal dari sari pati jeruk asli atau hanya flavour. Kalau hanya flavour, tak ada manfaatnya.
Beda bila memang betul-betul dari sari pati jeruk asli di mana terkandung asam folat yang tinggi dan sangat baik untuk tumbuh kembang anak." JANGAN BERLEBIHAN Minyak ikan juga mengandung lemak tinggi. Satu gram lemak kalau dikonversikan jadi 9 kalori. Bandingkan dengan satu gram karbohidrat yang hanya 4 kalori. Hingga, minyak ini sangat bagus bila diberikan pada anak kurus." Walau begitu, jangan mentang-mentang anak kurus lalu konsumsi minyak ikannya diperbanyak, lo.
Sebab, pemberian minyak ikan seyogyanya disesuaikan aturan penggunaannya. Selain itu, pada prinsipnya minyak ikan termasuk comestible supplement atau zat gizi tambahan yang berasal dari ikan.
Jadi, bila pola makannya baik, sebetulnya tak perlu lagi mengkonsumsi yang namanya suplemen karena bisa berakibat kelebihan zat gizi yang ada pada suplemen tersebut. Seperti diuraikan di atas, dalam minyak ikan terkandung vitamin A, D, dan kalsium yang cukup tinggi. Padahal, vitamin hanya dibutuhkan sedikit dalam tubuh." Contoh saja, pada bayi, bukankah ia juga mengkonsumsi susu yang di dalamnya terdapat kandungan kalsium tinggi?
Nah, jika ditambah dengan masuknya minyak ikan secara berlebihan, tentu akan kelebihan kalsium yang bisa jadi toksid racun. Apalagi pencernaan pada bayi masih belum sekuat orang dewasa. Ini akan memperberat sistem pencernaannya." Pun begitu pada anak balita. Taruhlah kebutuhan kalsium anak usia 1-2 tahun sekitar 500 mg per hari. Padahal, dari minyak ikan sekali makan sudah diperoleh sekitar 400 mg.
Belum lagi dari bahan makanan lain." HANYA BILA TAK NAFSU MAKAN Jadi, tekan Nurfri, jangan mentang-mentang merasa anak kurang gizi lalu diberikan minyak ikan dalam dosis dua kali lipat, ya, Bu. Sebaiknya, hanya diberikan kalau anak tak nafsu makan. Karena pada anak yang tak nafsu makan, otomatis zat-zat gizi lainnya tak masuk ke tubuhnya. Nah, untuk mengkompensasi kekurangan dari zat-zat yang seharusnya dari makanan inilah diberikan eatable suplemen minyak ikan ini."
Sebetulnya, terang Nurfri, akan lebih bagus lagi bila anak bisa mengkonsumsi langsung dari ikan. Dengan demikian, bukan hanya Omega-3-nya saja yang bisa diperoleh, tapi kandungan peridoksin, yodium, dan niasinnya bisa didapat. Kalau dalam bentuk ekstrak minyak ikan, pasti ada zat-zat lain dari bahan makanan ikan tersebut yang tersisih."
Tentunya ini hanya bisa dilakukan pada anak yang tak alergi terhadap ikan. Saran Nurfri, agar kadar Omega-3 dalam ikan bisa dipertahankan, sebaiknya dalam mengolahnya tak digoreng karena Omega-3 akan rusak dengan panas tinggi. Paling baik jika diolah dengan cara dipepes atau dipanggang." Dedeh Kurniasih.
Comments to this post not accepted.







